Sudah dua hari berlalu sejak hari itu, sejak saat terakhir ditatapnya lekat laki-laki yang berada disampingnya didalam mobil kala hujan di malam itu. Lastri, membenamkan kepalanya dalam selimut, wajahnya merah padam, sesekali dahinya mengernyit dan matanya memejam keras, mengulang-ulang kejadian malam itu, bisa bisanya. Bisa-bisanya kau lastri, bisiknya dalam hari.
Lastri, wanita seperempat abad itu lantas meringis, menarik selimutnya tinggi-tinggi lagi, lebih tinggi. Setinggi fikirannya yang telah melayang jauh ke 3 malam sebelum ini. Lalu merenung, menatap hampa dari balik selimut.
"ah, aku pasti sudah gila" gumannya.
Diluar sedang hujan, seperti malam itu, bukan lagi gerimis, ini adalah hujan badai, waktu dimana sebagian orang akan lebih senang menghabiskan waktu untuk hanyut dalam mimpinya dan membaringkan diri terlelap. tapi tidak bagi lastri. hujan ini adalah badai, badai nyata diluar dan juga didalam hatinya. Lastri menjulurkan tangannya keluar selimut, meraba-raba ke meja kecil disamping tempat tidur, mencari handphone nya, ah tak ada juga katanya. Menyerah dia meraba, selimut itu disingkirkannya, dan kemudian dia meraih kotak kecil itu juga. perlahan lastri merangkak ke sudut tempat tidur, memeluk lutunya, meringkuk.
Perlahan lastri membuka whatsapp.
